Cloud-computing

Sumber gambar : http://id.techinasia.com/

Meskipun perusahaan-perusahaan besar seperti Amazon sudah mulai menggunakan cloud computing untuk menyediakan layanan, masih banyak pihak yang meragukan teknologi ini.

Microsoft bekerja dengan lebih dari 2.000 mitra di 11 negara di Asia Pasifik — Australia, Hong Kong, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam — untuk mengidentifikasi hal yang paling membuat perusahaan khawatir dan meragukan cloud computing.

Dari 11 negara tersebut, hal yang paling banyak diragukan adalah kurangnya privasi. Thailand adalah satu-satunya negara yang, bukannya privasi, malah kuatir akan produktivitas dari cloud computing.

Microsoft mengungkapkan bahwa hanya 46 persen eksekutif di Asia pasifik yang memahami apa itu cloud computing. Kebanyakan orang yang memahami manfaat dari cloud computing dan yakin bahwa perusahaannya (dan perusahaan lain) sudah seharusnya mulai menggunakan layanan berbasis cloud adalah perusahaan yang termasuk dalam Generation Y.

Secara definisi, cloud computing adalah menggunakan sebuah jaringan remote server yang di-host di internet yang digunakan untuk menyimpan dan mengelola data. Contoh penggunaannya yang paling sederhana adalah mengoperasikannya sebagai server yang tidak memiliki lokasi atau ukuran yang spesifik. Memiliki data yang tersimpan dalam cloud juga berarti memiliki mobilitas dan kolaborasi. Daripada mengakses semua data dari satu titik, dengan cloud, perusahaan global bisa membagikan dan mengelola data dari manapun, termasuk dari perangkat mobile.

Email, backup, sharing file, dan customer relationship management adalah beberapa contoh penggunaan cloud oleh perusahaan.

Di bawah ini adalah infografik yang memperlihatkan 11 keraguan perusahaan Indonesia terhadap cloud computing.
Cloud-myths-indo-resized

Artikel dikutip dari : http://id.techinasia.com/perusahaan-asia-pasifik-masih-meragukan-privasi-di-cloud-computing/